24 August 2017

Gunung Tandikek Simungil yang Mempesona

 Ada beberapa jawaban kalau kita bertanya “Kenapa sih suka mendaki gunung ?”. Dari alasan alasan simpel sampai alasan yang sedikit berat untuk dipahami akan kita dapatkan, ada yang menjawab biar eksis lah, biar kekinian, biar dapat latar photo yang indah untuk upload dimedia sosial, atau alasan lebih dekat dan menyatu dengan alam sampai alasan biar dekat dengan TUHAN (dalam hal ini saya tak mengerti sama sekali karepa harus kegunung biar dekat dengan Tuhan), tapi apapun jawabannya geng, itulah kita, punya jawaban masing masing-tak perlu dipermasalhkan

 
Itulah sedikit celotehan tentang arti gunung yang sering kita dengar dari berbagai pendaki gunung gengs. Namun kita tak membahas masalah itu gengs, tapi kita akan membahas salah satu gunung di Sumbar yang menjadi salah satu surganya gunung di Sumatera ditanah termasyur kelahiran Hayati, Sumatera Barat. Dan yang menjadi fokus kali ini adalah si mungil yang mempesona yaitu Gunung Tandikek (Tandikat) yang terletak ditiga kabupaten sekaligus (tanah datar, padang pariaman dan agam).

                                          Gunung Tandikek dari jorong Ganting, Singgalang

Berdiri setinggi 2438 meter dari permukaan laut, gunung Tandikek memang tak segagah Marapi atau secantik Singgalang yang menjadi tonggak penjaga tanah Datuak Maringgih ini, namun Tandikek memiliki keelokan tersendiri yang sulit dilupakan begitu saja. Berdiri berdampingan dengan Singgalang membuat kedua gunung ini digadang-gadang sebagai gunung kembar dan menjadi latar favorite photo kalau dari Marapi. Ketiga gunung ini akrab disebut Triarga yang bagi saya yang lahir diderah tiga gunung ini melambangkan mereka sebagai lambang keluarga minang (Marapi adalah ayah yang tegar dan berapi api menjaga keluarganya, Singgalang merupakan lambang bundo kanduang yang menyayangi keluarga dan martabat keluarganya sehingga tak salah kalau penuh air, sedangkan Tandikek sendiri merupakan contoh anak yang mendapat didikan tegas marapi dan kasih sayang Singgalang. tak heran kalau Tandikek menjadi gunung aktif yang tak begitu bergejolak).

Ada beberapa jalur yang bisa dipakai untuk menikmati gunung ini, tapi jalur yang dipakai adalah jalur via lubuak mato kuciang yang berbatasan dengan kota Padang Panjang dikenagarian Singgalang.Jalur disini relative lebih mudah dan pendek dibandingkan beberapa jalur lainnya dan ada beberapa air terjun juga disekitar jalur ini.

Butuh waktu sekitar 7 jam perjalanan dari titik awal pendakian didaerah Rawang, jorong Ganting ,nagari Singgalang hingga mencapai bibir kaldera yang lumayan luas dan memanjakan mata. Rute yang dilalui dari titik awal berupa jalur mendaki-landai yang tak begitu menguras tenaga. Namun dari shelter II (sekitar 2 jam lagi sebelum puncak) bakal menguras stamina yang lebih.Pohon pohon tumbang bakal menemani langkah dan dibeberapa tempat pendaki harus dipaksa merunduk untuk bisa terus lanjut (nah toh pegal pegal dech tu pinggang, apalagi yang membawa carrier besar, gue hanya mau bilang semangat berjuang gengs).


Memiliki tipe vegetasi hutan hujan yang masih terjaga dan lebat dengan kanopi yang rapat, Tandikek masih diisi oleh hewan hewan yang menjadi ciri khas penghuni hutan sumatera yang sudah jarang ditemui dihutan kedua gunung lainnya (Marapi dan Singgalang). Sepanjang pejalanan tak jarang bakal menemukan jejak kaki harimau (datuak dari hutan rimba sumatera), kotoran kotoran hewan bakal mudah ditemui dijalur ini, bahkan kalau beruntung bakal menemukan Tapir yang pemalu.
  



   “Seberkas cahaya menjadi begitu luar biasa bukan karena   cahayanya, tetapi karena keadaan sekelilingnya. Semakin pekat, semakin bernilailah cahaya itu. Maka nilai itu bukan oleh apa yang di keluarkan, tetapi apa yang telah memberikannya. Karena hanya dengan memberikan dia akan menerima.” ― Dian Nafi, Mayasmara

    Harapan adalah kemampuan untuk melihat bahwa ada cahaya meskipun semua dalam kegelapan.








Percayalah, belum ke-Tandikek kalau belum masuk kedasar kaldera yang bakal memanjakan mata dengan pemandangan khas dari gunung Vulkanik aktif. Dalam kaldera Tandikek bakal ditemukan beberapa kawah yang aktif menyemburkan asap belerang dan diantaranya mengeluarkan suara gemuruh dari aktivitas vulkanik dalamnya.

Pemandangan ke arah kawah Gunung Tandikek



Salah satu sisi kawah Gunung Tandikek yang aktif mengeluarkan belerang
                                     
Dalam kaldera juga terdapat suatu Goa kecil yang juga bakal memanjakan mata dengan warna-wrna yang memanjakan mata dari material vulkanik yang masih aktif mengeluarkan belerang yang menyengat.Memiliki warna yang beraneka ragam dari garam mineral akibat aktivitas vulkanik membuat goa kecil ini sangat memukau dan menjadi tempat photo yang bagus bagi yang suka ber-selfie ria.Hhaaaa


Pemandangan dari pintu goa dalam kaldera Gunung Tandikek
                                       
Pemandangan dari pintu goa dalam kaldera Gunung Tandikek

Dalam lantai kaldera Tandikek juga terdapat telaga kecil yang airnya masih layak untuk diminum walaupun sedikit berasa pahit, namun saat kemarau airnya bakal menghilang meninggalkan lapangan kering yang luas.


“Bagi para jomblo sejati, ada spot photo yang wajib dicuba, seperti tempat lainnya yang memiliki pohon jomblo ,Tandikek juga punya pohon jomblonya sendiri buat kalian yang juga jomblo gengs.
Awas bagi yang punya pasangan jangan coba coba photo disini Kalau tak mau nantinya kena kutukan jomblo yang mengenaskan. Hmmmm"
Pohon Jomblo di Gunung Tandikek

Bagi yang menyukai dan pencari sunset ataupun sunrise untuk diabadikan dalam photo ataupun hanya menikmatinya, Tandikek juga memiliki keindahan lain dari perjalanan matahari sang penentu waktu, Sunrise dan sunset Tandikek juga tidak kalah mempesona dibandingkan ditempat lainnya.


                                  
 Perbandingan matahari terbit dan tenggelam digunung Tandikek
                                   
“Saya mengetahui malam selalu datang dengan gelap dan ketenangan, sayapun juga mengetahui adanya cahaya dan kebisingan disaat pagi hingga senja dan akhirnya kembali datang malam ditemani tiupan angin yang sunyi. Saat itu saya belajar tentang keseimbangan hidup. Belajar tentang banyak hal yang terjadi diantara kedua hal tersebut. Sunyi dan kebisingan, keduanya selalu mendampingi walau mereka berada hampir selalu berjauhan. Senja tahu tentang kepenatan dan rasa bosan yang diciptakan oleh kebisingan yang memuakan, senjapun juga sempat menyaksikan kebahagian yang diciptakan oleh sunyi walau sebentar tetapi itu sangat indah karna senja berwujud cantik selalu berwarna jingga berkilau emas diiringi sinari matahari yang tenggelam untuk tertidur.” ― Randy Juliansyah Nuvus.

Nah, itulah ulasan singkat mengenai gunung Tandikek, simungil yang mempesona dari tanah sumatera barat dan patut dipertimbangkan bagi penggiat pendaki gunung.

“KEEP YOUR ADVENTURE SAFETY, SAVE OUR NATURE AND HAPPY” NIKMATI ALAM TANPA MERUSAK KEINDAHANNYA

Share:

1 comment:

Translate

Our Facebook page