20 March 2015

Trip Mt. Tandikek 2438 mdpl TML Adventure

Gunung Tandikat juga merupakan bagian dari 3 puncak gunung di Minangkabau yang dikenal dengan Puncak-puncak Tri Arga (yaitu Singgalang, Marapi dan Tandikat). Meski Tandikat kurang populer di kalangan para pendaki, tapi ini dianggap sebagai nilai lebih. Suasana yang alami dan jarang dijamah manusia menjadikannya berbeda dengan kedua puncak gunung yang lain.
Gunung Tandikek jarang sekali didaki dan hewan liar seperti harimau sumatra masih bisa ditemui di hutan-hutan Gunung Tandikat ini. Untuk mendaki gunung ini dibutuhkan alat dan kemampuan navigasi yang memadai. Keadaan jalan setapaknya tidak jelas dan bahkan kadang-kadang hilang atau terputus, serta hutannya masih rapat dan lembap. Selain itu antara ketinggian 650—1.700 m dpl, dijumpai banyak sekali pacet di sekitar jalan setapaknya. Hal-hal tersebut membuat gunung ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pendakinya.

Pendakian ini kami mulai dari Rute Desa Singgalang Ganting
Dari Padang Panjang kami mengendarai sepedamotor menuju Desa Singgalang Ganting melewati pemandian alam terkenal di kota Padang Panjang yaitu Lubuk Mata Kucing. Nah, di desa inilah kita melakukan registrasi pendakian dan melapor kepala kelapa jorong setempat atau jurukuncinya bernama bapak St. Brain (merupakan gala yg diberikan di adat minang kabau setek besar) . Registrasi dipungut biaya lima ribu rupiah per orangnya. Melalui registrasi ini nama pendaki akan dicatat. Hal ini untuk mencegah kemungkinan terburuk jika pendaki hilang atau belum kembali pada waktu yang ditentukan. Dalam pendakian ini kami beranggotakan 10 orang, sebelumnya kami semua juga belum pernah pergi ke gunung tandikek tetapi kami telah mencari informasi mengenai gunung ini dan bertanya juga pada penduduk setempat bagaiman jalur dan treknya sebagai mana yg pernah saya ceritakan sebelumnya di petualangan sebelumnya di surga tersembunyi di kaki gunung tandikek. Di desa ini pula terdapat warung-warung penduduk dimana kita dapat membeli logistik yang masih kurang. Dari desa ini kita menuju mushola terakhir sebelum melakukan pendakian. Perjalanan dari Desa Singgalang menuju mushola terakhir membutuhkan waktu lebih kurang empat puluh lima menit dengan track menanjak tetapi kita tidak perlu cemas karna tracknya tidak begitu curam dan sekarang jalannya sudah di aspal.
foto pertama memulai perjalan sesudah mushola
Dari mushola, kita dapat melanjutkan perjalanan. Track berikutnya adalah melalui saluran air atau bandar hingga kita mencapai sebuah sungai berbatu yang cukup besar dengan lebar kurang lebih 5 meter. Setelah melakukan perjalan dari mushola sekitar 50 menit kita sampai di shalter 1 dan sumber air, Di sini kita dapat beristirahat sejenak sambil menikmati suasana sungai berbatu. Di sini pula kita dapat melakukan aktivitas memasak karena tersedia banyak air. Kebetulan kami nanjak waktu itu sore jam 6 sore dan sampai di shalter 1 pukul 6.50 sore dan kami memutuskan untuk mendirikan tenda karna tidak mungkin melanjutkan pejalan malam hari dikarna kan jalurnya samar samar.
Saat mendirikan tendapun kami di gurur oleh hujan lebat dan kami pun hujan-hujanan mendirikan tenda dan lansung mengganti pakaian dengan yang kering agar terhindar dari rasa kedinginan hebat setelah tenda selesai didirikan, kami pun lansung memasak dalam tenda untuk menghangakan badan yang sudah kedinginan tadi dan beristirahat untuk melanjutkan perjalan esok harinya. Sebelum melanjutkan perjalanan pagi ini, ada baik nya kita menigisi jug/tempat air mengingat track berikutnya tidak ada sumber air sebelum kita sampai di sumber air berikutnya dengan jarak tempuh enam jam perjalanan lagi.
Track berikutnya adalah perjalanan menajak yang terus menerus tanpa ada ”bonus”/jalan datar. Kemiringan mencapai empat puluh lima derajat. Di track inilah kekuatan fisik dan mental benar-benar di uji, Biasanya para pendaki sering melakukan istirahat sejenak pada track ini guna mengembalikan kekuatan.
foto saat kami istrahat ditengah perjalan
Setelah perjuangan yang cukup keras sampailah kami di shalter 2 dan sumber air. Di sini sering dijadikan area camp bagi para pendaki karena letaknya yang dekat dengan sumber air. Area ini mempunyai kontur/bidang yang cukup datar sehingga dapat mendirikan tenda. Namun di area camp ini kita hanya dapat mendirikan maksimal hingga tiga tenda mengingat bidangnya datarnya yang tidak terlalu luas. Sedangkan sumber air berada di sisi kanan. Untuk mencapai sumber air kita perlu turun ke bawah dengan ketinggian kurang lebih sepuluh meter. Namun, air yang mengalir di sumber air ini relatif kecil, Area ini juga sering dijadikan para pendaki sebagai tempat bermalam. Di sini juga banyak terdapat ranting dan dahan pohon yang sudah mati yang cocok untuk dijadikan api unggun.
foto saat berada di shalter 2
sumber air kedua ditengah perjalanan

Tetapi kami terus melanjutkan perjalanan hanya berhenti sebentar disi untuk mengisi persedianan air yang sudah kurang dan melanjutkan kembali perjalanan sampai ke sumber air yang ke 3 dalam perjalanan menuju puncak kira kira memakan waktu 60 menit dan disini baru saya dan kawan kawan berhenti dan memasak bekal yang kita bawa agar tenaga yang sudah terkuras dari tadi dapat pulih kembali dan trus melanjutkan perjalanan kembali.
foto saat pemsangan tanda saat istrahat

Dari area tempat kami memasak ini untuk mencapai puncak diperlukan waktu kurang lebih satu jam perjalan lagi dengan track yang mempunyai kemiringan kurang lebih empat puluh lima derajat. Setelah menempuh track tersebut barulah kami mesti melewati track menurun lagi dan menanjak lagi untuk sampai di Puncak Gunung Tandikek. Mencapai puncak gunung merupakan sebuah kenikmatan bagi kami maupun para pendaki lainnya. Saya dan kawan kawan sampai di puncak gunung tandikek tepat pukul 5 sore dan lansung mendirkan tenda. Namun kenikmatan tidak sampai di sini saja, kami masih dapat menikmati kawah Gunung Tandikek yang suara kawahnya seolah-olah menyambut kedatangan kami, Kawah gunung tandikek berada kurang lebih lima puluh meter di bawah puncak dan kami pun beruntung dapat cuaca yang sangat bagus sore itu dapat menikamti indahnya matahari terbenam dari puncak gunung tandikek.
foto saya saat menikmati indahnya mathari terbenam di puncak
gunung tandikek


puncak gunung tandikek
Kami pun langsung mengabadikan moment itu, hari pun semakin gelap dan kami pun masuk kedalam tenda untuk beristrahat dan memasak air untuk menghangatkan badan dan memasak bekal bekal kami dan bercerita cerita sama kawan kawan dan bersenda gurau sampai malam
posisi kami saat berada dipuncak gunung tandikek
malam itu hari tetap bagus bintak pun terlihat jelas dan ditemani sinar bulan dan beristrahat agar tenaga kami kembali fit untuk besok pagi. Pagi pukul 5.30 saya pun keluar dari tenda bertiga dengan teman untuk menyaksikan matahari terbit dan kami pun beruntung juga mendapatkan matahari terbit yang begitu indah…maha besar Allah telah menciptakan alam ini dengan begitu sangat indah
foto matahari pagi dari gunung tadikek
Hari pun menjelang siang kami pun memasak kembali untuk membuat sarapan dan melanjutkan perjalanan menuju kebawah kawah tandikek, Untuk menuju ke kawah ini kita harus sangat berhati-hati karena kemiringan mencapai enam puluh derjat, dengan tanah cadas yang rapuh. Setelah dua puluh menit perjalanan menurun dari puncak barulah kita sampai di kawah gunung tandikek. Di sinilah kita merasakan sebuah kenikmatan baru. Kawah Tandikek berkontur datar berbentuk sumur, dimana sekeliling kawah ini kami dapat melihat pusat titik semburan gas sulful. Para pendaki sering juga mengambil belerang yang berwarna kuning ini untuk kenang-kenangan ataupun untuk obat, kami pun juga ikut mengambil belerangannya yang katanya berkhasiat untuk memuluskan kulit muka.
foto kawah tandikek dari puncak

foto saat berada di kawah kawah kecil tandikek

foto saat berada di kawah tandikek
Masih ada yang menarik dari kawah ini, yaitu terdapat sebuah gua dan gua yang cukup besar yang mengelarkan asap belerang dan tetesan air hangat dari dinding gua. Di gua ini kita dapat beristirahat dan melakukan kegiatan memasak, karena di kawah ini juga terdapat sumber air. Dan setelah cukup lama menikmati indahnya kawah gunung tandikek saya dan kawang pun kembali ke puncak dan packing melanjutkan perjalanan pulang setelah beristrahat dari kawah tandikek,
foto dimulut gua kawah gunung tandikek dengan asap belerang
yang keluar dari dalam gua

dan di dalam perjalanan pulang kami diguyur hujan dari shalter 2 sampai kebawah dan sampai di shalter 1 kami mesti melintasi batang aia (sungai) dimana setelah diguyur hujan deras air sungai pun meluap untung adanya pohon yang tumbang melintasi sungai tersebut kami pun mesti hati hati melintasinya dengan tali di ikat kepinggan dan melintasi sungai tersebut,
perjuangan saat melintasi sungai melewati pohon yang terbelintang
ditengah sungai
satu satu saya pindahkan carrier yang besar melintasi sungai tersebut air pun semakin besar dan kami pun melintasi sungai tersebut bergantian dengan tali di ikat di pinggan agar kita lebih aman melintasi sungai ini bener benar petualangan yang sangat berharga dan tidak akan pernah saya lupakan bersama dengan kawan kawan. Sampai kembali kami dengan selamat dan sehat tanpa kurang satupun di mushola tempat kita memulai pendakian.



By : TML Adventure

“SELAMA PERJALANAN KITA LALUI DENGAN NIAT BAIK KARENA ALLAH, MAKA ALLAH AKAN MEMBERIKAN JALAN YANG MULUS DAN MEMBERIKAN LEBIH DARI YANG KITA HARAPKAN”

“JAGA ALAM DAN LESTAIKANLAH MAKA ALAM AKAN SELALU BERSAHABAT DENGAN KITA”

JAGAN KOTORI GUNUNG, GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH


Share:

6 comments:

  1. Salam lestari..dri j-pas adventure bkkt

    ReplyDelete
  2. mantap gan, semoga jejak dan tulisannya membantu pendaki selanjutnya,
    next target juga buat saya biar tri arga terasa :D

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Translate

Our Facebook page