Triarga is a name for three summit of west sumatera's mountain. The famously for climbers. One of them is Singgalang mountain. An inactive volcano mountain. It's not show activities since about 2000 years ago. And it's full of water. Moreever, the ex caldera created a lake, a wonderful lake ever called Talago Dewi, which an amazing view around it. Singgalang has a great view, cover by rain tropical forest. The main route in Singgalang is from pandai sikek village, besides there are another route such via pagu pagu village, or balingka or sikadunduang village, but most of climber often used pandai sikek route.
Start point of this route is from some television towers, where is climbers park their vehicle before take the top.Has 2878 metre from sea surface and full of water, Singgalang has a moist forest. Has much reseve of water and it easy to find water as long as trip. The typical of singgalang route counted hard. Start point near a towers, the route is covered by some kind of coarse grass, and it make something like a tunnel.
Although Singgalang mountain reseve much much water, but there are some sources if we need to refill stock water. Firts, passed a coarse grass, second in half of route. third, before sedimentary rock formation and last in Talago Dewi. Talago Dewi has most fantastic view in this mountain. Was created from ex of Singgalang's caldera and has 2767 metre from sea surface, Talago Dewi has a Wonderful view, what make every single eyes feel amaze look this wonderful lake. Talago dewi has a crystal water (so beautiful) and it will be fantastic when the first sun bright touch the water. It will hypnotize you.
Around Talago Dewi, the wonderland was created by amazing mossy trees, created a fenomenal forest which every single tree covered by moss. The view like something not on earth, but some kind in a strange world with wonderful view, will amaze you (believe me).
Has 2767 high metre from sea surface, the water of this lake absolutely cold, so is not suggest you to swim there. It will freeze your bone and without not swim, it will keep quality of water stay better.
Ada
beberapa jawaban kalau kita bertanya “Kenapa sih suka mendaki gunung ?”. Dari
alasan alasan simpel sampai alasan yang sedikit berat untuk
dipahami akan kita dapatkan, ada yang menjawab biar eksis lah, biar kekinian, biar dapat latar
photo yang indah untuk upload dimedia sosial, atau alasan lebih dekat dan
menyatu dengan alam sampai alasan biar dekat dengan TUHAN (dalam hal ini saya
tak mengerti sama sekali karepa harus kegunung biar dekat dengan Tuhan), tapi apapun jawabannya geng, itulah kita, punya jawaban masing masing-tak perlu dipermasalhkan
Itulah sedikit celotehan tentang arti
gunung yang sering kita dengar dari berbagai pendaki gunung gengs. Namun kita tak
membahas masalah itu gengs, tapi kita akan membahas salah satu gunung di
Sumbar yang menjadi salah satu surganya gunung di Sumatera ditanah termasyur
kelahiran Hayati, Sumatera Barat. Dan yang menjadi fokus kali ini adalah si
mungil yang mempesona yaitu Gunung Tandikek (Tandikat) yang terletak ditiga kabupaten sekaligus (tanah datar, padang pariaman dan agam).
Gunung Tandikek dari jorong Ganting, Singgalang
Berdiri setinggi 2438 meter dari
permukaan laut, gunung Tandikek memang tak segagah Marapi atau secantik
Singgalang yang menjadi tonggak penjaga tanah Datuak Maringgih ini, namun
Tandikek memiliki keelokan tersendiri yang sulit dilupakan begitu saja. Berdiri
berdampingan dengan Singgalang membuat kedua gunung ini digadang-gadang sebagai
gunung kembar dan menjadi latar favorite photo kalau dari Marapi. Ketiga gunung ini akrab disebut Triarga yang bagi saya yang lahir diderah tiga gunung ini melambangkan mereka sebagai lambang keluarga minang (Marapi adalah ayah yang tegar dan berapi api menjaga keluarganya, Singgalang merupakan lambang bundo kanduang yang menyayangi keluarga dan martabat keluarganya sehingga tak salah kalau penuh air, sedangkan Tandikek sendiri merupakan contoh anak yang mendapat didikan tegas marapi dan kasih sayang Singgalang. tak heran kalau Tandikek menjadi gunung aktif yang tak begitu bergejolak).
Ada beberapa jalur yang bisa dipakai untuk menikmati gunung ini, tapi jalur yang dipakai adalah jalur via lubuak mato kuciang yang berbatasan dengan kota Padang Panjang dikenagarian Singgalang.Jalur disini relative lebih mudah dan pendek dibandingkan beberapa jalur lainnya dan ada beberapa air terjun juga disekitar jalur ini.
Butuh waktu sekitar 7 jam
perjalanan dari titik awal pendakian didaerah Rawang, jorong Ganting ,nagari
Singgalang hingga mencapai bibir kaldera yang lumayan luas dan memanjakan mata.
Rute yang dilalui dari titik awal berupa jalur mendaki-landai yang tak begitu
menguras tenaga. Namun dari shelter II (sekitar 2 jam lagi sebelum puncak)
bakal menguras stamina yang lebih.Pohon pohon tumbang bakal menemani langkah
dan dibeberapa tempat pendaki harus dipaksa merunduk untuk bisa terus lanjut
(nah toh pegal pegal dech tu pinggang, apalagi yang membawa carrier besar, gue
hanya mau bilang semangat berjuang gengs).
Memiliki tipe vegetasi hutan hujan yang
masih terjaga dan lebat dengan kanopi yang rapat, Tandikek masih diisi oleh hewan
hewan yang menjadi ciri khas penghuni hutan sumatera yang sudah jarang ditemui
dihutan kedua gunung lainnya (Marapi dan Singgalang). Sepanjang pejalanan tak
jarang bakal menemukan jejak kaki harimau (datuak dari hutan rimba sumatera),
kotoran kotoran hewan bakal mudah ditemui dijalur ini, bahkan kalau
beruntung bakal menemukan Tapir yang pemalu.
“Seberkas cahaya menjadi begitu luar biasa bukan karena cahayanya,
tetapi karena keadaan sekelilingnya. Semakin pekat, semakin bernilailah
cahaya itu. Maka nilai itu bukan oleh apa yang di keluarkan, tetapi apa
yang telah memberikannya. Karena hanya dengan memberikan dia akan
menerima.”
―
Dian Nafi,
Mayasmara
Harapan adalah kemampuan untuk melihat bahwa ada cahaya meskipun semua dalam kegelapan.
Percayalah, belum ke-Tandikek
kalau belum masuk kedasar kaldera yang bakal memanjakan mata dengan pemandangan
khas dari gunung Vulkanik aktif. Dalam kaldera Tandikek bakal ditemukan beberapa kawah
yang aktif menyemburkan asap belerang dan diantaranya mengeluarkan suara
gemuruh dari aktivitas vulkanik dalamnya.
Pemandangan ke arah kawah Gunung Tandikek
Salah satu sisi kawah Gunung Tandikek yang aktif mengeluarkan belerang
Dalam kaldera juga terdapat suatu Goa
kecil yang juga bakal memanjakan mata dengan warna-wrna yang memanjakan mata
dari material vulkanik yang masih aktif mengeluarkan belerang yang menyengat.Memiliki warna yang beraneka ragam dari garam mineral akibat aktivitas vulkanik membuat goa kecil ini sangat memukau dan menjadi tempat photo yang bagus bagi yang suka ber-selfie ria.Hhaaaa
Pemandangan dari pintu goa dalam kaldera Gunung Tandikek
Pemandangan dari pintu goa dalam kaldera Gunung Tandikek
Dalam lantai kaldera Tandikek juga terdapat telaga kecil yang airnya masih layak untuk diminum walaupun sedikit berasa pahit, namun saat kemarau airnya bakal menghilang meninggalkan lapangan kering yang luas.
“Bagi para jomblo sejati, ada
spot photo yang wajib dicuba, seperti tempat lainnya yang memiliki pohon jomblo
,Tandikek juga punya pohon jomblonya sendiri buat kalian yang juga jomblo gengs.
Awas bagi yang punya pasangan
jangan coba coba photo disini Kalau tak mau nantinya kena kutukan jomblo yang
mengenaskan. Hmmmm"
Pohon Jomblo di Gunung Tandikek
Bagi yang menyukai dan pencari
sunset ataupun sunrise untuk diabadikan dalam photo ataupun hanya menikmatinya,
Tandikek juga memiliki keindahan lain dari perjalanan matahari sang penentu
waktu, Sunrise dan sunset Tandikek juga tidak kalah mempesona dibandingkan ditempat lainnya.
Perbandingan matahari terbit dan tenggelam digunung Tandikek
“Saya mengetahui malam selalu datang dengan gelap dan ketenangan,
sayapun juga mengetahui adanya cahaya dan kebisingan disaat pagi hingga
senja dan akhirnya kembali datang malam ditemani tiupan angin yang
sunyi. Saat itu saya belajar tentang keseimbangan hidup. Belajar tentang
banyak hal yang terjadi diantara kedua hal tersebut. Sunyi dan
kebisingan, keduanya selalu mendampingi walau mereka berada hampir
selalu berjauhan. Senja tahu tentang kepenatan dan rasa bosan yang
diciptakan oleh kebisingan yang memuakan, senjapun juga sempat
menyaksikan kebahagian yang diciptakan oleh sunyi walau sebentar tetapi
itu sangat indah karna senja berwujud cantik selalu berwarna jingga
berkilau emas diiringi sinari matahari yang tenggelam untuk tertidur.”
―
Randy Juliansyah Nuvus.
Nah, itulah ulasan singkat mengenai gunung Tandikek, simungil yang mempesona dari tanah sumatera barat dan patut dipertimbangkan bagi penggiat pendaki gunung.
“KEEP YOUR ADVENTURE SAFETY, SAVE OUR NATURE AND HAPPY” NIKMATI ALAM TANPA MERUSAK KEINDAHANNYA
ini cerita kami dalam melakukan pendakian gunung masurai di jambi, mungkin belum banyak orang mendengar nama gunung masurai, gunung masurai terletak di taman nasional kerici seblat (TNKS). gunung masurai terletak di kabupaten merangin propinsi jambi. gunung masurai memiliki daya tarik tersindiri untuk di daki yaitu gunung masurai memiliki beberapa danau, yang cukup terkenal adalah danau mabuk dan danau kumbang, yang merupakan termasuk dalam danau vulkanik tertinggi dan gunung masurai memang jarang terjamah oleh masusia.
padang panjang - dhamasraya 25 mei 2016
perjalanan kami mulai dari padang panjang setelah menunggu teman dari payakumbuh yaitu danny kyle, setelah selesai packing semua perlengkapan pendakian dan menaikan keatas motor kami berdua berangkat ke dhamasraya jam 7.30 malam dan memulai perjalanan panjang kami. menikimati perjalanan sepanjang malam sampai di dhamasraya pukul 1.00 malam tgl 26 mei 2016 disana sudah ada teman satu lagi menunggu sebut saja nama alfi hamdi akbar (bg bro). sampai dirumah bg bro kami pun beristrahat untuk perjalan pagi.
dhamasraya - bangko 26 mei 2016
pagi terbangun dari dunia mimpi kami siap siap dan sarapan dan mengangkat carrier masing kemobil menuju jalan lintas, dan menunggu mobil menuju bangko. cukup lama menunggu mobil menuju bangko akhirnya jam 11.30 kami dapat mobil bus menuju bangko, selama perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan sebra hijau, perbukitan, perkebunan kelapa sawit cupuk lama 3 jam perjalanan dengan bus kami sampai dikota bangko pukul 3.00 sore. perut yang sudah mulai lapar kami pun berjalan mencari rumah makan dan menghubungi sekre KPA GEMMPA Bangko. setelah makan pun kami dijemput teman-teman dari KPA GEMMPA dibawa ke Sekre KPA GEMMPA, disana kami disambut dengan tangan terbuka dan senang hati, berkenalan dengan semua keluarga besar kpa gemmpa saling bercengkrama dan bertukar tukar cerita dengan ceria. hari pun sudah mulai sore kami melanjutkan perjalanan menuju desa sungai lalang yaitu desa tempat memulai pendakian gunung masurai, kami pun dibantu cari mobil menuju desa sungai lalang oleh kawan kawan dari kpa gemmpa. berangkat dari base sekre kpa gemmpa pukul 5.30 sore menuju sungai lalang, perjalanan menuju sungai lalang memakan 3 jam perjalan dan sampai disungai lalang pukul 9.20 malam, kami menginap dirumah Bg Penas yang juga keluarga besar dari kpa gemmpa sekaligus kami disana melapor untuk pendakian gunung masurai. disana pun kami disambut dengan tangan terbuka. pendakian akan kami lakukan besok pagi, sebelum istrahat kami bercerita cerita dengan bg penas bagai mana trek pendakian yang akan kami lakukan besok panjang cerita hari pun mulai larut kami pun memutuskan istrahat untuk menjaga kondisi.
sungai lalang - puncak 1 gunung masurai 27 mei 2016
pendakian dimulai pukul 9.50 pagi dari rumah bg penas tempat kami menginap dan menuju jl. gunung masurai yang terletak tidak jauh dari tempat kami menginap. terus berjalan dengan matahari dengan cerahnya bersinar melewati perkebunan kopi milik warga, dan kita akan melewati semacam terowongan semak semak yaitu jalan setapak yang di kelilingi semak dan ranting - ranting dari bagian samping sampai atas menyerupai terowongan. lama berjalan hari sudah menunjukan 12.30 kami sampai di pintu rimba dan istrahat sejenak mengatur nafas, disini dedaunan berwarna hijau, tanah basah yang masih berlumut, jalan setapak yang masih dikelilingi oleh semak belukar menandakan memang gunung Masurai masih jarang tereksplorasi dan inilah yang membuat keindahan di gunung Masurai terlihat alami dan natural. disini hanya suara kami saja yang terdengar dan sesekali suara kicauan burung dengan merdunya berkicau dan suara serangga dipepohonan.
perjalanan kami lanjutkan kembali sekitar 1,5 jam kami menemukan lahan kosong dimana dapat mendirikan tenda dan merukan shalter 1 dan disini juga terdapat sumber air yang tidak jauh dari shalter 1, kira kira 5 menit perjalanan untuk sampai di sumber air. disini mengisi perbekalan air kami dan istrahat sebentar makan perbekalan yang kami bawa dan melanjutkan kembali perjalanan. perjalanan baru kami mulai dari shalter 1 hujan pun turun dengan cukup deras kami pun berhenti untuk memakai mantel, "ingat teman dalam pendakian jangan sampai kita lupa membawa mantel karna sewaktu waktu dapat turun hujan untuk menghindari badan bawah kuyup agar terhindar dari hypothermia" .
perjalanan kami lanjutkan kembali setelah menggunakan mantel dan selama perjalanan jalur cukup curam dan jalan pun agak mulai licin karna dibasahi hujan dan banyak pepohonan yang ditumbuhi lumut menambah hijaunya hutan seperti hutan lumut, dan sering juga kami mesti melewati pepohonan yang tumbang yang mesti menunduk untuk melewatinya. hari pun sudah mulai gelap headlamp pun sudah kami siapkan,,, kaki yang sudah mulai lelah berjalan nafas yang sudah mulai ngos ngosan kami pun sampai di persimpangan yang menunjukan menujuh arah danau mabuk dan danau kumbang, kami terus berjalan menuju danau kumbang dan tidak lama berjalan setelah itu terdapat subuah tempat terbuka yang cukup luas kira kira bisa mendirikan untuk 3 tenda dan itu merupakan puncak 1 waktu sudah menunjukan pukul 18.15 sore. tenda pun sudah berdiri yang sudah dulu didirikan oleh pak danny kyle yang sudah duluan menuju puncak 1, kami pun langsung ganti baju dan istrahat dan memasak air untuk menghangat kan badan yang mulai kedinginan.
puncak 1 - danau kumbang 28 mei 2016
pagi mentari muncul dengan malu-malu dibalik awan menyapa kami menghapus dinginnya malam dan menggantikan dengan kehangatan. pemandangan dapat kita pandagi dari sini sangatlah indah dangan latar hutan dan lereng gunung masurai dan dari sinin kita dapat melihat keindahan danau kumbang dari puncak 1 ini, dan sebelah kanan dari arah puncak satu tidak kalah indah pemandangan gunung hulunilo, gunung sumbing, dan gunung kerinci seakan menapap kami dengan keindahannya. kami pun mengabadikan momen indah ini dengan jepretan kamera dan mensyukuri nikmat keindahan gunung masurai yang telah tuhan ciptakan meski bukan dari puncak tertinggi. cukup puas menikmati keindahan dari puncak satu kami pun sarapan pagi dulu sebelum melanjutkan perjalan menuju danau kumbang.
09.00 pagi kami mulai perjalan menuju danau kumbang yang satu arah menuju puncak top kira kira 3 sampai 4 jam perjalanan sampai puncak top, dan terdapat juga shalter 2 menuju puncak top. jalanan setelah puncak 1 ini lebih banyak lagi hutan lumutnya yang menadakan jarang orang melewatinya dan benar benar masih terjaga alamnya, hijau, lembab, dan basah hutan setelah puncak satu ini. tidak lama setelah puncak satu kita akan menemukan persimpangan menuju danau kumbang, persimpangannya belok kiri dan untuk menuju puncak top gunung masurai kita mesti lurus.
kami melanjutkan perjalanan menuju danau kumbang yang merupakan satu dari beberapa danau yang terdapat di gunung masurai yaitu danau kumbang, danau mabuk, danau merah, dan danau larangan. jalan menuju danau kumbang lumayan terjal kita mesti berpegangan pada urat pepohanan tanjakan ini dikenal juga dengan tanjakan setan. setelah 1 jam perjalan kami sampai di danau kumbang. subhanallah.... begitu yang terucap dari mulut kami melihat keindahan danau kumbang.
refleksi pepohonan terlihat jelas diair danau kumbang yang berwarna kehijauan. sesekali dapat melihat gemercik dan riak air danau kumbang yang ditiup angin lembah gunung masurai. kebetulan waktu itu air danau agak naik dikarenakan musim ujan kemaren tapi teras danau yang hijau terlihat sangat menakjubkan dan udara yang begitu menyegarkan membuat kami benar benar bersyukur diberi kesempan untuk dapat menikmati keindahan gunung masurai yang benar benar alami dan masih terjaga.
disekitaran danau kumbang kita juga dapat mendirikan camp, karena disini terdapat area yang cukup luas untuk mendirikan tenda. tidak sadar hari sudah menujukan pukul 11.15 kami benar benar terlena dengan keindahan alam gunung masurai dan danau kumbangnya, kami pun kembali keatas menuju camp dan membawa perbekalan air sampai di camp jam 12.20 kami langsung memasak dan packing dan melanjutkan perjalan turun sampai di perkebunan kopi milik warga sudah gelap dan sempat diguyur hujan deras kami sampai di rumah bang penas 7.20 malam tempat kami menginap.
desa sungai lalang - dhamasraya 29 mei 2016
perjalanan pulang dari sungai lalang kami naik mobil travel dipagi hari. sampai di bangko pukul 10.00 kami mampir lagi ke sekre kpa gemmpa sampai disana kami pun ditahan dulu bercerita cerita sampai sore kami diantar naik mobil kedhamasraya. pendakian kali ini memberikan kesan yang sangat sangat menyenakan. kami mendapatkan teman, abang dan keluarga baru disana, "ALAM MEMPERSATUKAN KITA".
“KEEP YOUR ADVENTURE SAFETY, SAVE OUR NATURE AND HAPPY” NIKMATI ALAM TANPA MERUSAK KEINDAHANNYA
Sudah lama juga tidak memaikan jari
jari di depan laptop…
Apa kabar sahabat pembaca semuanya
mudah mudahan sehat selalu…
Baiklah kali ini cerita beranjak ke kota batiah, kota batiah adalah kota yang terkenal dengan batiahnya yaitu kota payakumbuah, payakubuah terkenal dengan kelezatan produk kulinernya yang mengoda selera seperti galamai, beras rendang, rendang belut, rendang telur, martabak telur dan lainnya dan tidak hanya itu payakubuah juga memiliki banyak tempat-tempat yang sangat indah untuk
dikunjungi seperti Lemha Harau, Ngalau Indah, Air terjun yang terdapat di
lembah harau, dan Ngalau Saribu dan lainnya tapi cerita kali ini tepatnya Di Daerah
Sibaladuang kabupaten 50 Kota dan disinilah perjalanan kali ini dimulai
tepatnya kami akan melakukan pendakian gunung sago, gunung sago memiliki
ketinggian 2261 Mdpl.
Gunung Sago memiliki panorama alam
yang patut dikagumi, gunung yang terletak di antara dua kabupaten ini dikenal
juga dengan gunung malintang.
Baiklah sebelum melakukan pendakian
sebaiknya kita kumpulkan dulu semua informasi bagai mana treknya, perijinannya,
dan lainnya. Gunung sago memiliki beberapa jalur pendakian dan kami mulai survcey
seminggu sebelum melakukan pendakian dan kami dapat info dari pendaki local
dimana jalur pendakian lewat nagari situjuah dan sibaladuang, kami bersama
sepakat untuk mendaki lewat jalur sibaladuang dan pergi kelokasi untuk melihat
dimana awal perjalanan pendakian dan mencari rumah kepala jorong setempat untuk
mendapatkan ijin pendakian. Dan sampai dirumah kepala jorong (pak Dt.
Marajo) nagari setempat kami pun minta
ijin untuk melakukan pendakian yang rencana awal kami melakukan pendakian
tanggal 15-17 agustus 2015. Ijin telah
dapat dari jorong setempat dan kami pun memberi info kepada rekan – rekan bawah
pendakian kita telah dapat ijin dan mempersiapkan segala keperluan pendakian.
surve jalur yang akan kami lalui untuk pendakian
Baiklah para sahabat pendaki lanjut
lagi,,,
15 agustus 2015 perjalanan dimulai kami
semua berkumpul di bukittinggi dan kami beranggotakan 13 orang dan 1 orang dari
payakumbuah, jam sudah menunjukan pukul 5 sore dan kami langsung berangkat ke
payakumbuah ke nagari sibaladuang. Dari bukittingi ke payakumbuah memakan waktu
lebih kurang 1 jam perjalanan sampai disana kami mampir dulu kerumah kepala
jorong untuk melapor bawah kami akan mulai pendakian besok pagi dan ngecamp
semalam dulu di pintu rimba gunung sago, setelah melapor kami lanjutkan
perjalanan menuju pintu rimba dan mendirikan tenda, makan dan istrahat untuk
perjalanan besok.
Pagi 16 agustus matahari pun menyapa
dengan indahnya kami mulai masak untuk sarapan dan siap siap untuk memulai
perjalanan, tepat pukul 9 kami memulai perjalanan dari pintu rimba dengan hari
yang cerah kaki ini mulai melangkan menelusuri hutan dengan jalur yang masih
asri dan masih terawat terus berjalan dengan trek yang masih landai dan 1 jam perjalanan kami lewati sampai lah
kami di Tanjakan Asmara
foto ditanjakan asmara
Berhenti sejenak di tanjakan asmara mengambil
nafas dan perjalanan kami lanjutkan menuju shalter 1 yaitu Galanggang Sibunian,
perjalanan kami lanjutkan kembali dengan tanjakan yang sudah menanti dihadapan
dengan berjalan santai pelan pelan saja tapak ini mulai melangkah dengan
kemiringan yang cukup tegak, dalam perjalanan jangan lupa melihat setiap rekan
rekan dengan saling mengkoordinir dan saling menjaga. Perjalanan terus kami
lanjutkan dengan perlahan sambil mengatur pernapasan, tidak terasa dua jam kami
terus berjalan dan sampai lah kami di shalter 1 galanggang sibunian dan disini
kami memutuskan untuk istrahat sejenak ngemil snek dan memasak air untuk kopi.
saat istrahat di galanggang sibunian
20 menit istrahat perjalanan kami
lanjutkan kembali menuju sumber air lebih kurang 2 jam perjalanan dari
galanggang sibunian dengan trek yang mulai terus menanjak dan bebatuan yang
lumayan besar dan jurang disamping kiri yang
cukup dalam, cukup lama perjalanan dan kami sampai di batu lalok. Batu lalok
merupakan batu yang cukup besar dan datar dan bisa tidur diatasnya. Berhenti
sejenak di batu lalok mengatur pernapasan karna lumayan jauh juga perjalanan
dan fisik mulai terkuras, kaki ini pun mulai melangkah lagi dengan terus
semangat walau fisik mulai terkuras melewati jalur yang mulai naik turun dan
jurang disamping dan mesti hari hati sambil berpegangan pada urat kayu, suara
air mengalir pun sudah terdengar arah depan kami dan sampailah di sumber air.
Disini kami putuskan istrahat cukup lama untuk memasak untuk mengembalikan
tenaga yang sudah terkuras dari tadi.
Cukup lama istrahat makan dan
tenagapun sudah kembali kami berkemas dan melanjutkan perjalanan menuju puncak
rabuang shalter 2, dan disumber air inilah kita mesti mengisi perbekalan air
yang dibutuhkan untuk sampai puncak karna tidak ada sumber air lagi di atas.
Tanjakan sabar pun sudah menunggu kami langsung didepan, Tanjakan sabar dari
namanya kita pasti sudah pikir mesti sabar untuk nanjaknya karna tanjakan bener
bener tegak mesti berpegangan dengan urat urat kayu dan kita mesti hati hati
jangan sampai terjatuh,,,
sumber air sebelum tanjakan sabar
kita mesti saling bantu dan sabar hehehe… disini
fisik bener bener ditanya hoohhohoh… tanjakan ini cukup panjang dan benar benar
menguras fisik dan langkah ini sering kali terhenti untuk mengatur nafas
ditambah carrier yang kami bawa dan 3 jam perjalanan telah kami lalui sampai
lah kami di puncak rabuang semua lelah dari bawah terbayar dengan keindahan
yang terbentang dihadapan mata ini… keindahan payakumbuah terlihat indah dari
sini, di puncak rabuanglah kami mendirikan tenda untuk beristrahat denga lokasi
yang cukup luas, tenda pun berdiri dan kami pun terus menikmati keindahan dari
sini dan hangatnya matahari menyinari
tanjakan sabar
Untuk sampai kepuncak gunung sago dari
puncak rabuang dibutuhkan sekitar 15 menit perjalan tapi di puncak rabuang lah
lokasi yang bagus untuk mendirikan tenda dan disini juga pemandangan yang cukup
lepas.
Pagi 17 agustus 2015 matahari pun
muncul malu malu menyapa dibalik awan dan tepat dihari kemerdekaan bangsa kita
ini kamipun mengibarkan bendera merah putih memperingati hari kemerdekaan kita.
Dan kebetulan Cuma kami sekelompok yang ada dipuncak tidak ada rombongan
pendaki lain naik dari sibaladuang. Setelah selesai mengibarkan bendera kami
pun terus menikmati keindahan alam ini bersama sama dengan rasa syukur terhadap
sang pencipta dengan segala ciptaan begitu indah…
dan dengan rasa syukur mari lah kita jaga dan terus lestarikan alam yang begitu
indah ini..
puncak rabuang gunung sago
Matahari pun mulai tinggi kami semua
packing untuk perjalanan turun kembali dan sampai dibawah pukul 6.30 wib dan
beruntungnya kami juga dapat melihat matahari terbenam yang begitu indah dan
pendakian ini benar benar mengagumkan dan tak akan terlupakan.
By : TML Adventure
“KEEP YOUR ADVENTURE SAFETY, SAVE OUR NATURE & HAPPY” NIKMATI ALAM TANPA MERUSAK KEINDAHANNYA